Memaknai Setiap Detik Dalam Hari-hari Kita
1. Siklus hari saling terikat satu sama lainnya. Mana yang benar dari dua pernyataan ini: “hari senin mempengaruhi hari selasa” atau “hari selasa yang mempengaruhi hari senin”?. Pernyataan pertama yang benar dong ya teman-teman. Hari senin yang mempengaruhi selasa, bukan sebaliknya. Apa yang kita lakukan di hari senin, berpengaruh terhadap apa yang kita dapatkan di hari selasa. Dan apa kita lakukan di hari selasa, akan berdampak kepada hari rabu kita. Kelihatannya pernyataan saya ini benar. Padahal, tidak tepat seperti itu. Mengapa? Karena garis waktu hari-hari kita tidak terletak pada bidang datar atau garis lurus. Garis waktu kita berada dalam lingkaran sebuah siklus multi dimensi. Jika Anda melakukan sesuatu di hari selasa, boleh jadi dampaknya justru akan Anda rasakan di hari senin. Bukan di hari rabu. Lho, bukankah senin sudah berlalu? Benar. Tetapi kita masih memiliki senin-senin lainnya dalam hidup kita, bukan? Fakta ini menunjukkan bahwa apapun yang kita lakukan pada hari ini – apakah perilaku baik atau perilaku buruk – sangat berpengaruh terhadap seluruh hari-hari dalam hidup kita. Maka berhati-hatilah dalam setiap hari yang kita lalui. Karena dampak dari perilaku kita pada salah satu hari itu, mungkin sangat menentukan sisa-sisa hari yang masih kita miliki.
2. Waktu memiliki bobotnya sendiri-sendiri. Semua hari dalam hidup kita sama-sama terdiri dari 24 jam. Maka mestinya, kita bisa mengganti hari apapun dengan jumlah waktu yang sama. Misalnya, jika saya melakukan kesalahan selama 1 jam kepada Anda, maka sebaiknya Anda hanya menghukum saya atas kesalahan itu selama 1 jam juga dong. Tetapi nyatanya tidak demikian. Jika saya melakukan sesuatu yang sedemikian buruknya kepada Anda. Misalnya menyakiti Anda selama satu jam. Lalu Anda membawa saya ke pengadilan, Anda meminta hakim untuk memenjarakan saya selama 15 tahun. Betul demikian? Sebaliknya. Ada orang-orang yang bekerja keras selama 5 tahun. Berjuang menghadapi setiap cobaan, rintangan dan tantangan hidup. Pedih dan perih dijalaninya selama masa-masa sulit itu. Namun, setelah semua usahannya menampakkan hasil, orang itu bisa menikmati hasilnya selama puluhan tahun hidupnya kemudian bahkan bisa diwariskan. Perhatikanlah sekali lagi. Ternyata, waktu memiliki bobotnya masing-masing. Lantas, apakah gerangan yang menentukan bobot itu? Satu hal saja. Yaitu; apa yang kita lakukan untuk mengisi waktu-waktu itu. Jadi, Apa yang akan Anda lakukan hari ini? Sesuatu yang menyebabkan Anda menderita atau menanggung malu selama puluhan tahun yang akan datang? Ataukah, melakukan tindakan-tindakan yang memungkinkan Anda untuk menjadi pribadi yang mulia, terhormat, dan tentram hati kelak ketika memasuki saat-saat terakhir dalam hidup kita. Hmmmmh… silakan tentukan sendiri.
3. Waktu mematangkan segala sesuatu. Jika Anda menanak nasi, tentu Anda perlu energy panas dari api atau listrik. Tanpa itu, beras tidak akan berubah menjadi nasi. Namun, ada ‘energy’ lain yang harus ada selain panas itu. Tahukah Anda apakah itu? Waktu. Nyalakan kompor Anda, satu detik. Maka beras tidak akan tanak. Waktulah yang sangat berpengaruh untuk mematangkan sesuatu. Tanpa waktu, kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Indah pada waktunya, jika Anda lebih suka menyebutnya demikian. Bagaimana dengan kita? Kita selalu ingin segala sesuatu memberikan hasil secara instan. Sekarang berusaha, sekarang ada hasilnya. Itu jika kita melakukan kebaikan. Saya juga sering ingin demikian. Sebaliknya. Jika kita melakukan keburukan, kita ingin agar waktu terus diulur-ulur agar jangan sampai konsekuensi atau perilaku dan tindakan buruk itu mendatangi kita. Padahal, waktu tidak pernah bisa dihentikan. Maka ketika kita berbuat kebaikan. Berikhtiar. Berusaha mendapatkan penghidupan. Mencari nafkah. Mengejar berkah. Bersabarlah, bila hasilnya belum seperti yang kita harapkan. Dan teruslah berjuang. Sebaliknya. Ketika kita berbuat keburukan. Tidak perlu pergi terlalu jauh. Karena kemanapun kita berlari. Dimanapun kita sembunyi. Waktu akan menentukan kapan kita harus memberikan pertanggungjawabannya. Segala sesuatu, indah pada waktunya. Karena waktu, mematangkan segalanya.
4. Waktu melacak setiap jejak. Lihatlah struk belanja kartu kredit Anda. Tanggal berapa dicetaknya? Tetera disana. Periksalah pesawat yang Anda tumpangi, jam berapa take off dari runway? Ada jadwalnya. Telitilah, layar monitor gadget komunikator Anda, berapa menit atau detikkah percakapan yang Anda buat bersama seseorang nun jauh disana? Jam berapa Anda tidur. Jam berapa Anda bangun. Jam berapa Anda masuk ke kantor. Jam berapa blablablabla. Semuanya terekam oleh waktu. Sekarang. Mari. Kita. Renungkan. Lagi. Apakah setiap tindakan dan perilaku kita juga terlacak jejaknya disana? Jika demikian, maka ketika kita menggunakan jemari tangan ini untuk menuliskan kalimat-kalimat hujatan kepada orang lain. Mencaci maki. Mencerca. Semuanya terekam dengan sempurna. Begitu pula ketika kita menggunakannya untuk menyemangati sesama. Mengajak mereka kepada kebaikan. Dan menyerukan perdamaian. Semua tercatat tanpa cacat. Itu baru jemari tangan. Bagaimanakah gerangan dengan lidah kita. Tangan kita. Kaki kita. Otot-otot dalam tubuh kita. Setiap sel dalam otak kita. Seluruhnya. Pada setiap jam, menit, dan detik yang dilaluinya ada jejak yang ditinggalkannya. Jejak seperti apakah yang kita ingin waktu melacak dan mencatatnya?
5. Bahkan Tuhan pun bersumpah dengan waktu. Dalam kitab suci, kita membaca dengan jelas dan tegas; “Demi waktu!” demikian Tuhan bersumpah. Oh, sedemikian pentingnyakah waktu dimata Tuhan? Sesunggungnya manusia itu berada dalam kerugian loh. Tahu kenapa? Karena kita sering lalai dengan detak detik jam di tembok yang terus berjalan. Kita tidak tahu sampai kapan masih punya waktu. Tetapi kita selalu tergoda untuk memubadzirkannya. Atau mengisi detik demi detik dalam hidup kita dengan sesuatu yang tidak berguna. Bahkan, mungkin juga kita pakai waktu yang ada untuk menyakiti perasaan orang lain. Menghujat orang-orang yang bahkan tidak melakukan sesuatu yang merugikan diri kita. Apa sih yang kita lakukan dengan detik-detik yang dimata Tuhan sedemikian berharganya ini? Rugi, manusia itu. Bukan kata saya. Tapi menurut firman yang dibawa oleh Nabi suci. “Kecuali,” lanjut firman itu. “Orang-orang yang meyakini keberadaan Tuhannya.” Itu yang pertama. “Dan orang yang melakukan tindakan dan perilaku baik.” Itu yang kedua. “Dan saling menasihati dalam kebenaran.” Itu yang ketiga. “Dan saling menasihati dalam kesabaran.” Dan itulah yang keempat. Dari miliaran manusia, hanya ada 4 jenis orang yang tidak rugi selama menjalani setiap detik dalam hari-harinya. Adakah kita termasuk kedalam jenis orang-orang itu?
DEKA – Dadang Kadarusman – 14 Februari 2012

